TAHRIB RAMADHAN

Pada pagi yang cerah, 14 Februari 2026, halaman SD Negeri II Balung tampak berbeda dari biasanya. Spanduk berwarna hijau dan putih terbentang di depan gerbang sekolah dengan tulisan besar: “Semarak Tahrib Ramadhan 1447 H”. Hiasan bulan sabit dan bintang menggantung di sepanjang lorong kelas, dibuat dengan penuh semangat oleh para siswa bersama guru-guru mereka beberapa hari sebelumnya.

Sejak pukul 07.00 WIB, para siswa sudah berdatangan mengenakan busana muslim terbaik mereka. Anak-anak laki-laki memakai baju koko dan peci, sementara anak-anak perempuan tampil anggun dengan gamis dan jilbab berwarna-warni. Wajah mereka memancarkan kebahagiaan karena hari itu bukan hari belajar biasa—melainkan hari untuk menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh suka cita.

Acara dibuka di lapangan sekolah. Barisan siswa duduk rapi sesuai kelas masing-masing. Ibu Kepala Sekolah memberikan sambutan dengan suara lembut namun penuh semangat. Dalam pidatonya, beliau mengajak seluruh siswa untuk menjadikan Ramadhan sebagai bulan peningkatan ibadah, kedisiplinan, dan akhlak mulia.

“Anak-anak,” ucap beliau, “Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Mari kita sambut dengan hati yang bersih dan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.”

Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh salah satu siswa kelas enam yang terkenal memiliki suara merdu. Suasana lapangan menjadi hening. Lantunan ayat suci menggema lembut, membuat siapa pun yang mendengarnya merasakan ketenangan.

Kegiatan berikutnya adalah pawai keliling desa Balung. Para siswa berjalan dengan tertib sambil membawa poster bertuliskan pesan-pesan Ramadhan seperti “Marhaban Ya Ramadhan”, “Puasa Melatih Kesabaran”, dan “Ramadhan Bulan Berbagi”. Warga sekitar tersenyum melihat semangat anak-anak. Beberapa orang tua bahkan ikut berjalan mendampingi.

Setelah pawai, para siswa kembali ke sekolah untuk mengikuti berbagai lomba islami. Ada lomba adzan, lomba hafalan surat pendek, lomba kaligrafi, dan lomba pidato bertema Ramadhan. Suasana aula sekolah dipenuhi tepuk tangan dan sorakan semangat setiap kali peserta tampil. Para guru bertindak sebagai juri dengan penuh perhatian dan kebijaksanaan.

Di salah satu sudut aula, siswa kelas lima tampak serius mengikuti lomba kaligrafi. Tangan mereka berhati-hati menorehkan tinta membentuk tulisan indah “Ramadhan Kareem”. Sementara itu, di ruang kelas lain, lomba hafalan surat pendek berlangsung khidmat. Peserta berdiri tegap, melafalkan ayat-ayat dengan percaya diri.

Menjelang siang, panitia membagikan snack dan minuman kepada seluruh peserta. Tawa dan canda terdengar di berbagai sudut sekolah. Kebersamaan terasa begitu hangat.

Acara ditutup dengan doa bersama agar diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa nanti. Semua siswa mengangkat tangan, memohon dengan tulus.

Hari itu bukan sekadar kegiatan seremonial. Tahrib Ramadhan di SD Negeri II Balung menjadi momen pembelajaran yang bermakna—tentang kebersamaan, keimanan, dan persiapan menyambut bulan suci.

Ketika bel pulang berbunyi, para siswa meninggalkan sekolah dengan hati yang penuh semangat. Mereka tidak sabar menanti datangnya Ramadhan, membawa kenangan indah dari perayaan Tahrib Ramadhan yang meriah dan penuh makna pada 14 Februari 2026 itu.

Pada pagi yang cerah, 14 Februari 2026, halaman SD Negeri II Balung tampak berbeda dari biasanya. Spanduk berwarna hijau dan putih terbentang di depan gerbang sekolah dengan tulisan besar: “Semarak Tahrib Ramadhan 1447 H”. Hiasan bulan sabit dan bintang menggantung di sepanjang lorong kelas, dibuat dengan penuh semangat oleh para siswa bersama guru-guru mereka beberapa hari sebelumnya.

Sejak pukul 07.00 WIB, para siswa sudah berdatangan mengenakan busana muslim terbaik mereka. Anak-anak laki-laki memakai baju koko dan peci, sementara anak-anak perempuan tampil anggun dengan gamis dan jilbab berwarna-warni. Wajah mereka memancarkan kebahagiaan karena hari itu bukan hari belajar biasa—melainkan hari untuk menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh suka cita.

Acara dibuka di lapangan sekolah. Barisan siswa duduk rapi sesuai kelas masing-masing. Ibu Kepala Sekolah memberikan sambutan dengan suara lembut namun penuh semangat. Dalam pidatonya, beliau mengajak seluruh siswa untuk menjadikan Ramadhan sebagai bulan peningkatan ibadah, kedisiplinan, dan akhlak mulia.

“Anak-anak,” ucap beliau, “Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Mari kita sambut dengan hati yang bersih dan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.”

Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh salah satu siswa kelas enam yang terkenal memiliki suara merdu. Suasana lapangan menjadi hening. Lantunan ayat suci menggema lembut, membuat siapa pun yang mendengarnya merasakan ketenangan.

Kegiatan berikutnya adalah pawai keliling desa Balung. Para siswa berjalan dengan tertib sambil membawa poster bertuliskan pesan-pesan Ramadhan seperti “Marhaban Ya Ramadhan”, “Puasa Melatih Kesabaran”, dan “Ramadhan Bulan Berbagi”. Warga sekitar tersenyum melihat semangat anak-anak. Beberapa orang tua bahkan ikut berjalan mendampingi.

Setelah pawai, para siswa kembali ke sekolah untuk mengikuti berbagai lomba islami. Ada lomba adzan, lomba hafalan surat pendek, lomba kaligrafi, dan lomba pidato bertema Ramadhan. Suasana aula sekolah dipenuhi tepuk tangan dan sorakan semangat setiap kali peserta tampil. Para guru bertindak sebagai juri dengan penuh perhatian dan kebijaksanaan.

Di salah satu sudut aula, siswa kelas lima tampak serius mengikuti lomba kaligrafi. Tangan mereka berhati-hati menorehkan tinta membentuk tulisan indah “Ramadhan Kareem”. Sementara itu, di ruang kelas lain, lomba hafalan surat pendek berlangsung khidmat. Peserta berdiri tegap, melafalkan ayat-ayat dengan percaya diri.

Menjelang siang, panitia membagikan snack dan minuman kepada seluruh peserta. Tawa dan canda terdengar di berbagai sudut sekolah. Kebersamaan terasa begitu hangat.

Acara ditutup dengan doa bersama agar diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa nanti. Semua siswa mengangkat tangan, memohon dengan tulus.

Hari itu bukan sekadar kegiatan seremonial. Tahrib Ramadhan di SD Negeri II Balung menjadi momen pembelajaran yang bermakna—tentang kebersamaan, keimanan, dan persiapan menyambut bulan suci.

Ketika bel pulang berbunyi, para siswa meninggalkan sekolah dengan hati yang penuh semangat. Mereka tidak sabar menanti datangnya Ramadhan, membawa kenangan indah dari perayaan Tahrib Ramadhan yang meriah dan penuh makna pada 14 Februari 2026 itu.

Pada pagi yang cerah, 14 Februari 2026, halaman SD Negeri II Balung tampak berbeda dari biasanya. Spanduk berwarna hijau dan putih terbentang di depan gerbang sekolah dengan tulisan besar: “Semarak Tahrib Ramadhan 1447 H”. Hiasan bulan sabit dan bintang menggantung di sepanjang lorong kelas, dibuat dengan penuh semangat oleh para siswa bersama guru-guru mereka beberapa hari sebelumnya.

Sejak pukul 07.00 WIB, para siswa sudah berdatangan mengenakan busana muslim terbaik mereka. Anak-anak laki-laki memakai baju koko dan peci, sementara anak-anak perempuan tampil anggun dengan gamis dan jilbab berwarna-warni. Wajah mereka memancarkan kebahagiaan karena hari itu bukan hari belajar biasa—melainkan hari untuk menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh suka cita.

Acara dibuka di lapangan sekolah. Barisan siswa duduk rapi sesuai kelas masing-masing. Ibu Kepala Sekolah memberikan sambutan dengan suara lembut namun penuh semangat. Dalam pidatonya, beliau mengajak seluruh siswa untuk menjadikan Ramadhan sebagai bulan peningkatan ibadah, kedisiplinan, dan akhlak mulia.

“Anak-anak,” ucap beliau, “Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Mari kita sambut dengan hati yang bersih dan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.”

Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh salah satu siswa kelas enam yang terkenal memiliki suara merdu. Suasana lapangan menjadi hening. Lantunan ayat suci menggema lembut, membuat siapa pun yang mendengarnya merasakan ketenangan.

Kegiatan berikutnya adalah pawai keliling desa Balung. Para siswa berjalan dengan tertib sambil membawa poster bertuliskan pesan-pesan Ramadhan seperti “Marhaban Ya Ramadhan”, “Puasa Melatih Kesabaran”, dan “Ramadhan Bulan Berbagi”. Warga sekitar tersenyum melihat semangat anak-anak. Beberapa orang tua bahkan ikut berjalan mendampingi.

Setelah pawai, para siswa kembali ke sekolah untuk mengikuti berbagai lomba islami. Ada lomba adzan, lomba hafalan surat pendek, lomba kaligrafi, dan lomba pidato bertema Ramadhan. Suasana aula sekolah dipenuhi tepuk tangan dan sorakan semangat setiap kali peserta tampil. Para guru bertindak sebagai juri dengan penuh perhatian dan kebijaksanaan.

Di salah satu sudut aula, siswa kelas lima tampak serius mengikuti lomba kaligrafi. Tangan mereka berhati-hati menorehkan tinta membentuk tulisan indah “Ramadhan Kareem”. Sementara itu, di ruang kelas lain, lomba hafalan surat pendek berlangsung khidmat. Peserta berdiri tegap, melafalkan ayat-ayat dengan percaya diri.

Menjelang siang, panitia membagikan snack dan minuman kepada seluruh peserta. Tawa dan canda terdengar di berbagai sudut sekolah. Kebersamaan terasa begitu hangat.

Acara ditutup dengan doa bersama agar diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa nanti. Semua siswa mengangkat tangan, memohon dengan tulus.

Hari itu bukan sekadar kegiatan seremonial. Tahrib Ramadhan di SD Negeri II Balung menjadi momen pembelajaran yang bermakna—tentang kebersamaan, keimanan, dan persiapan menyambut bulan suci.

Ketika bel pulang berbunyi, para siswa meninggalkan sekolah dengan hati yang penuh semangat. Mereka tidak sabar menanti datangnya Ramadhan, membawa kenangan indah dari perayaan Tahrib Ramadhan yang meriah dan penuh makna pada 14 Februari 2026 itu.